Jumat, 22 April 2022

Koneksi Antarmateri modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.


Koneksi antarmateri modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai pemimpin pembelajaran

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri

KoneksiWaktu: 2 JP 
Moda:  Mandiri 
Tujuan Pembelajaran Khusus: CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media.

Kegiatan Pemantik:

Bacalah kutipan ini dan tafsirkan apa maksudnya:

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

  • Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?
  • Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?
  • Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Untuk menunjukkan pemahaman Anda akan kaitan antarmateri ini anda akan membuat rangkuman yang menunjukkan koneksi antarmateri.

  • Buatlah sebuah rangkuman dari proses perjalanan pembelajaran Anda sampai saat ini pada program guru penggerak ini.
  • Anda dapat memilih bentuk rangkuman kesimpulan Anda dengan cara:

  1. menulis sebuah blog dan mengundang rekan-rekan seprofesi Anda untuk memberikan tanggapan atas tulisan Anda, atau
  2. bentuk sebuah presentasi video yang dimuat di media sosial, menggunakan media animasi sederhana, misalnya powtoon atau screencast atau media sosial lainnya.

  • Silakan kirim tautan blog/bahan presentasi yang dimuat di media sosial di blog yang disediakan.
  • Bila Anda tidak ingin menggunakan media sosial, Anda dapat membuat blog atau bahan presentasi kemudian unggah hasil tulisn Anda di Blog yang telah disediakan.
    Anda pun dapat membuat sebuah jurnal akan perjalanan pembelajaran Anda. Akan lebih baik, bila bentuk rangkuman kesimpulan Anda dapat mengundang pihak luar untuk menanggapi tulisan Anda, sehingga ini bisa menjadi umpan balik yang positif akan proses berpikir Anda.
  • Jangan lupa akan tenggat waktu (Hari/Tanggal/Waktu) yang telah ditentukan
  • Di bawah ini ada berbagai pertanyaan panduan yang bisa membantu Anda merangkum pemahaman Anda:

Panduan Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi Antarmateri):

  • Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
  • Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.
  • Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
  • Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?
  • Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
  • Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut ada pada screencast di bawah ini.



berikut ini youtube dari koneksi antarmateri dalam bentuk screencast


selamat menyaksikan




 

Kamis, 03 Februari 2022

Laporan aksi nyata budaya positif modul 1.4

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                      LAPORAN  AKSI  NYATA

MODUL  1.4  BUDAYA  POSITIF

 

 

Disusun Oleh  :

 

 

 

Nama

Calon Guru Penggerak

Unit Kerja

:

:

:

Nur Zuafah S.Pd

Angkatan 4 Kabupaten Pati

SD Negeri Ngetuk 01 Kecamatan Gunungwungkal

 

 

 

 

 

 

 

DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN PATI

2022

 

 

 

A.    Latar Belakang

Budaya positif adalah  nilai yang telah disepakati, yang menjadi kebiasaan bersama yang akan dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Budaya positif merupakan bentuk pembiasaan karakter yang baik, yang terdiri dari beberapa kegiatan dalam rangka untuk menumbuhkan karakter baik peserta didik. Pembentukan karakter bertujuan untuk mewujudkan budaya positif di sekolah. Budaya Positif merupakan salah satu indikator peningkatan mutu sekolah.

Sekumpulan nilai yang melandasi peilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan symbol-simbol yang dilakukan oleh semua warga sekolah adalah pengertia dari Budaya Positif. Untuk dapat mewujudjan budaya positif di sekolah, diperlukan kolaborasi dan sinergitas antara semua unsur yang ada disekolah. Semua harus mampu melaksanakan suatu perubahan positif yang dilaksanakan secara berkesinambungan penuh komitmen demi terwujudnya visi murid impian dan sekolah impian.

Budaya positif yang dibangun dalam suatu kelas akan berdampak pada budaya positif di lingkungan sekolah. Komitmen pelaksanaan budaya positif harus dimulai sejak dini. Peran Guru Penggerak adalah menggerakkan agar budaya positif dalam membudaya. Kegiatan yang mencerminkan budaya positif diantaranya adalah bekerjasama, kolaboratif dengan rekan sejawat, hubungan yang harmonis dan akrab antara guru dengan peserta didik maupun dengan orang tua wali murid, sikap disiplin penuh tanggung jawab yang dapat di contoh oelah orang lain. Membangun budaya positif di sekolah dapat diawali dengan membangun budaya positif di kelas melalui komonkasi yang efektif. :

 

B.     Deskripsi Aksi Nyata

Kegiatan aksi nyata dilaksanakan selama 4 minggu dengan tahapan sebagai berikut

1.      Persiapan

Pada Minggu Pertama, kegiatannya adalah membangun komunikasi dengan Kepala Sekolah terkait pentingnya penerapan budaya positif, yang didahului penerapan dari diri seorang guru kemudian siswa baik di dalam kelas maupun lingkungan sekolah. Selanjutnya melakukan pengimbasan kepada seluruh rekan sejawat sekaligus menyamakan persepsi tentang strategu penerapan budaya positif.

 

2.      Pelaksanaan

Pada minggu kedua, melaksanakan aksi pada kelas luring kelompok belajar  kegiatan Penilaian Akhir Semester Gasal. Dimulai dengan membuat kesepakatan kelas. Setelah kesepakatan kelas dibuat maka kesepakatan kelas tersebut menjadi keyakinan kelas. Berikut ini keyakinan kelas 5 SD Negeri Ngetuk 01 yang disepakati secara bersama oleh seluruh warga kelas 5 SD Negeri Ngetuk 01:

a.       Senantiasa menjaga kebersihan.

b.      Bekerja sama dengan baik dan rukun.

c.       Selalu menjaga keamanan dan kedamaian kelas.

d.      Selalu rajin belajar dan disiplin

Keyakinan kelas ini diharapkan untukdapat diimplementasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di kelas maupun di sekolah.

3.      Pengumpulan Data

Pada minggu ketiga saya mengumpulkan data sebagai bahan menyusun laporan aksi nyata.

4.      Pelaporan

Minggu keempat menyusun laporan kegiatan sesuai dengan alur budaya positif pada modul 1.4

 

C.    Hasil Aksi Nyata

Hasil yang dapat dirasakan dari penerapan budaya positif pada kegiatan pembelajaran di sekolah adalah:

1.      Respon positif dari peserta didik dan orang tua murid.

2.      Kegiatan belajar berjalan nyaman dan bermakna.

3.      Lingkungan tempat belajar selalu bersih.

4.      Anak menjadi lebih disiplin

5.      Kerja sama antar kelompok lebih kompak dan terarah karena setiap anak merasa menjadi bagian dari kelompok tersebut.

 

D.    Refleksi Kegiatan

Tindakan dari kegiatan aksi nyata adalah sebagai berikut:

1.      Satu anak masih terlambat datang kesekolah selama 2 hari.

2.      Penanaman sebuah karakter dan keyakinan tidak serta merta langsung dapat dilihat seketika akan tetapi masih perlu proses sehingga untuk mencapai sebuag karakter perlu adanya konsistensi dan pengulangan yang berlanjut.

 

E.     Rencana Tindak Lanjut

Hal yang masih perlu diperbaiki dalam penerapan budaya positif dalam kegiatan aksi nyata saya adalah :

1.      Meningkatakan disiplin waktu

2.      Menginternalisasi keyakinan kelas ke dalam diri siswa agar menjadi sebuah karakter yang baik dengan teladan dan penggulangan pengulangan kegiatan positif.

 

F.     Dokumentasi


Membuat kesepakatan dengan menuliskan hal yang mereka harapkan dapat terwujud di kelas

 

 

 

 

 



Menempel kesepakatan kelas di kertas keyakinan kelas

 

 

Penandatangan keyakinan kelas

 


 

 



Best Team salah satu trik agar anak menjaga keyakinan kelas tentang kerja sama

Koordinasi dengan kepala sekolah mengenai aksi nyata

 

Kolaborasi bersama rekan sejawat


Dokumentasi pelaksanaan sosialisasi aksi nyata dalam bentuk video

https://www.youtube.com/watch?v=lv7QGo56W8M&t=23s



 


Selasa, 01 Februari 2022

Artikel Ilmiah Populer

 

Google Workspace, Strategi Jitu Tingkatkan Pembelajaran

Oleh:

Nur Zuafah, S.Pd.

Guru SD Negeri Ngetuk 01 Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati

Dunia memang akan selalu berubah, demikian juga dengan sistem pendidikan. COVID-19 memaksa kita untuk mengadopsi cara belajar yang baru secara cepat. Di tengah pandemi di mana kegiatan belajar di sekolah belum memungkinkan, pembelajaran daring menjadi cara agar anak didik dapat terus bersekolah dari rumah masing-masing. Pembelajaran daring merupakan suatu pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dengan menggunakan internet.

Salah satu kendala yang dihadapi peserta didik dalam pembelajaran daring adalah pemahaman materi. Ketika tatap muka, informasi mengenai materi yang disampaikan guru dapat didengar secara langsung dan terjadi interaksi timbal balik. Apabila terdapat materi yang belum dipahami dapat segera direspon oleh guru.

Beberapa permasalahan muncul di Kelas 5 SDN Ngetuk 01 Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati pada awal tahun ajaran 2021/2022. Dalam proses pembelajaran daring menggunakan WAG berbantuan buku LKS, peserta didik merasa jenuh dan kebingungan karena tugas kurang menarik dan tidak terstruktur. Sehingga pemahaman materi sangat minim. Salah satu alternatif pemecahan masalah yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan proses pembelajaran adalah menggunakan Google Workspace.

Google Workspace merupakan platform digital yang mendukung proses pembelajaran daring. Beberapa fitur dari Google Workspace seperti Google Classroom, Google Meet, Google Site, Google Form, dan masih banyak lainnya bisa saling dikombinasikan.

Fitur yang membantu proses belajar mengajar layaknya di kelas adalah Google Classroom. Menurut Ender & Waller (2014: 37), Google Classroom dirancang untuk mempermudah interaksi guru dan siswa dalam dunia maya. Google Classroom  adalah sebuah layanan  terintegrasi dari  beberapa Google Workspace, seperti Google Mail (Gmail), Google Docs, Google Drive, YouTube, dan Google Calendar dalam  bentuk  aplikasi  berbasis  web.

Dalam pelaksanaan pembelajaran daring tematik Tema 2 Udara Bersih bagi Kesehatan, guru memanfaatkan Google Classroom sebagai wadah kegiatan atau kelas maya. Google Classroom ini dikombinasikan dengan YouTube untuk memberikan materi agar semakin jelas dan menarik. Link YouTube tentang Organ Pernapasan Manusia disertakan dalam Google Classroom agar peserta didik mampu mencerna materi secara nyata.

 Guru juga memberikan materi literasi Organ Pernapasan Manusia melalui Google Site. Sedangkan untuk evaluasi guru menggunakan fitur Google Form. Google Form memudahkan guru untuk membuat soal yang disertai dengan gambar atau video dan juga lebih mudah dalam proses penilaian karena rangkuman jawaban dari siswa akan secara otomatis terangkum dalam Google Sheet.

Proses pembelajaran daring juga menggunakan Google meet. Google Meet digunakan guru untuk bertatap muka secara maya melalui sebuah aplikasi atau web. Peserta didik bisa bertanya secara langsung kepada guru. Sedangkan peserta didik yang lain menyimak. Misskonsepsi materi pembelajaran bisa diuraikan melalui Google Meet.

Kombinasi pembelajaran yang variatif menggunakan Google Workspace ini, membuat peserta didik semakin tertarik mengikuti pelajaran. Mereka sangat antusias dan bersemangat. Keaktifan mereka terlihat ketika mengumpulkan tugas dan melakukan meeting dengan Google Meet. Selain pembelajaran yang menarik dan variatif, keuntungan lain dari Google Workspace adalah peserta didik lebih melek teknologi terkini. Mereka lebih tanggap terhadap kemajuan teknolgi.

Banyak sekali manfaat yang diperoleh dari penggunaan Google Workspace dalam pembelajaran daring. Penggunaan platform digital ini sangat penting dalam menunjang proses pembelajaran daring di sekolah.

Pertengahan semester 1 Tahun Ajaran 2021/2022 SD Negeri Ngetuk 01 sudah menggunkan Google Workspace dalam pembelajaran. Pembelajaran daring menggunakan Google Workspace mampu meningkatkan proses pembelajaran dengan meningkatkan interaksi, serta dapat menciptakan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang diharapkan.



Rabu, 30 Maret 2016

PIGP Bab I



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting. Sehingga dapat menjadi tolok ukur bagi perkembangan suatu bangsa. Bangsa Indonesia mempunyai dasar negara Pancasila sebagai pandangan hidupnya yang di dalamnya telah merumuskan sistem pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.
Kegiatan pembelajaran merupakan proses untuk mencapai tujuan yang memerlukan seperangkat komponen pengajaran. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru harus mengacu pada kurikulum yang berlaku sebagai arah tercapainya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.
Keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran antara lain dipengaruhi oleh kesiapan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Kesiapan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dapat berupa kesiapan dalam memilih metode pembelajaran dan dapat pula berupa ketepatan guru dalam menyediakan alat peraga pembelajaran.
Undang-undang No. 14 Tahun 2005 pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Selanjutnya dalam pasal 1 ayat 4 undang-undang tersebut menyatakan bahwa Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.
Kedudukan guru sebagai tenaga profesional berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran, dan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yakni berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003  pasal 3). Oleh karena itu, guru mempunyai fungsi, peran, dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional di bidang pendidikan.
Mengingat peran guru yang sangat strategis dalam pembangunan pendidikan, maka seorang guru harus dipersiapkan secara matang. Persiapan tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan mulai dari saat belajar di perguruan tinggi, pendidikan profesi guru di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), sampai menjadi guru yang ditugaskan di satuan pendidikan.
Pada saat awal seorang guru pemula mulai mengajar dan mengenal lingkungan sekolah, mereka menghadapi beberapa hambatan antara lain: pengenalan karakteristik peserta didik, budaya sekolah, beradaptasi, dan berkomunikasi dengan warga sekolah. Pengenalan guru pemula terhadap situasi sekolah akan menentukan karir dan profesionalitas seorang guru selanjutnya. Salah satu program yang dapat membekali guru pemula dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi guru pada awal mereka bertugas adalah Program Induksi Guru Pemula (PIGP).
Untuk mengetahui sejauh mana Program Induksi Guru Pemula (PIGP) berjalan dengan baik, maka perlu disusun laporan pelaksanaan Program Induksi Guru Pemula (PIGP).

B.     Dasar Hukum
1.      Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2.      Undang-undang Nomor 32 Tahun 2003 tentang Pemerintahan Daerah
3.      Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen
4.      Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidik
5.      Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru
6.      Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
7.      Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit
8.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2010 tentang Program Induksi Bagi  Guru Pemula
9.      Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 36 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya

C.    Tujuan
Tujuan Program Induksi Guru Pemula adalah :
1.      Membantu guru pemula untuk mengenali dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang baru.
2.      Membimbing guru pemula untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum dan sesuai dengan karakteristik siswa.
3.      Agar guru pemula secara bertahap menjadi guru yang profesional.